Ticker

6/recent/ticker-posts

SEJARAH DESA BATTEMBAT



Pada akhir abad ke-16 Desa Batembat belum mempunyai nama, namun daerah ini sudah dihuni oleh penduduk. Mereka membangung gubug-gubug berdinding anyaman bambu dan beratap daun kelapa dengan alas tidurnya terbuat dari anyaman daun kelapa. 

Diantara mereka ada seorang yang sangat dihormati dan disegani bernama Ki Juriman dikenal sebagai Ki Gede Juriman. Ia sangat disegani penduduk setempat karena baik tutur kata dan tingkah lakunya, tidak pernah merugikan dan menyakiti hati orang lain. Sebaliknya, ia senantiasa memberi manfaat bagi masyarakatnya. Ia bersama Pangeran Walangsungsang adalah murid Syekh Nurjati. Setelah menun aikan ibadah haji, Ki Juriman diangkat sebagai lebe Cirebon pertama. Sebagai sorang lebe Cirebon, ia bertugas mengurus pernikahan dan kematian, yang dikerjakanya dengan sungguh-sungguh dengan menggunakan aturan islam. Dalam menjalankan tugasnya, ia mempunyai dua orang pembantu yang bernama Ki Budi dan Ki Mulyo. Ia mendirikan masjid jami’ yang diberi nama Masjid Al-Aulia. Di masjid inilah mengajarkan agama islam kepada penduduk sehingga sifat pengabdiannya ditiru oleh masyarakat. Meski masjid trsebit tidak memiliki saluran pembuangan air,akan tetapi tindak menikmbulkan genangan air kotor di sekitar Masjid. Air limbah tersebut berada di pesawahan Sicangak. Pengabdian Ki Juriman tidak hanya kepada Mbah kuwu Cirebon saja tetapi kepada Sunan Gunung Jati dan diikuti oleh para pembantu dan masyarakatnya sehingga mengundang para wali. 

Setelah diselidiki ternyata Ki Juriman dan pembantu-pembantunya berasal dari daerah yang belum mempunyai nama. Akhirnya para Wali mengadakn musyawarah untuk memberi nama daerah asal Ki Juriman. Setelah melangsungkan musyawarah, pemberian nama tersebut selalu gagal, setiap calon nama daerah diajukan diembat-embat (ditimbang-timbamg), selalu tidak disepakati dengan berbagai macam alasan misalnya tidak sesuai dengan keadaan daerah, masyarakat maupun pengabdian Ki Juriman. 

Begitulah berkali-kali setiap konsep nama diajukan dan diembat-embat selalu di tolak. Akhirnya dalam sebuah musyawarah Sunan Gunung Jati memutuskan memberi nama daerah itu embat-embat. Hingga sekarang daerah itu dinamakan Desa Battembat berasal dari kata Embat-embat. Desa Battembat tidak mempunyai lahan pertanian seperti halnya desa lain. Atas anjuran Sinuwun Sunan Gunung Jati kepada Jati Merta dan Kejaksan supaya keduanya memberikan sebagian lahannya kepada Desa Battembat, menjadikan sebagian kecil masyarakat Battembat dapat bercocok tanam. Ki Juriman dimakamkan dipuinggir/luar tembok sebelah timur Pasarean (makam) Sunan Gunung Jati, sedangkan Ki Budi dan Ki Mulyo dimakamkan dibelakang masjid Battembat.



Penulis : Tim KKN 106 Kolaboratif Mandiri UIN SGD - IAIN SNJ 2023

Pennyunting : Maghrisul Akhiroh Syam, Rafiq Albanajib

Posting Komentar

0 Komentar